Pages

Minggu, 25 November 2012

KEHAMILAN ETROPIK


BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Kehamilan ektopik adalah suatu kehamilan dimana sel telur yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh diluar endometrium kavum uteri. Kehamilan ektopik dapat mengalami abortus atau ruptur pada dinding tuba dan peristiwa ini disebut sebagai Kehamilan Ektopik Terganggu.
Sebagian besar kehamilan ektopik terganggu berlokasi di tuba (90%) terutama di ampula dan isthmus. Sangat jarang terjadi di ovarium, rongga abdomen, maupun uterus. Keadaan-keadaan yang memungkinkan terjadinya kehamilan ektopik adalah penyakit radang panggul, pemakaian antibiotika pada penyakit radang panggul, pemakaian alat kontrasepsi dalam rahim IUD (Intra Uterine Device), riwayat kehamilan ektopik sebelumnya, infertilitas, kontrasepsi yang memakai progestin dan tindakan aborsi.
Insiden kehamilan ektopik terganggu semakin meningkat pada semua wanita terutama pada mereka yang berumur lebih dari 30 tahun. Selain itu, adanya kecenderungan pada kalangan wanita untuk menunda kehamilan sampai usia yang cukup lanjut menyebabkan angka kejadiannya semakin berlipat ganda.
Kehamilan ektopik terganggu menyebabkan keadaan gawat pada reproduksi yang sangat berbahaya. Berdasarkan data dari The Centers for Disease Control and Prevention menunjukkan bahwa kehamilan ektopik di Amerika Serikat meningkat drastis pada 15 tahun terakhir. Menurut data statistik pada tahun 1989, terdapat 16 kasus kehamilan ektopik terganggu dalam 1000 persalinan. Menurut hasil penelitian yang dilakukan Cuningham pada tahun 1992 dilaporkan kehamilan ektopik terganggu ditemukan 19,7 dalam 100 persalinan.
Dari penelitian yang dilakukan Budiono Wibowo di RSUP Cipto Mangunkusumo (RSUPCM) Jakarta pada tahun 1987 dilaporkan 153 kehamilan ektopik terganggu dalam 4007 persalinan, atau 1 dalam 26 persalinan. Ibu yang mengalami kehamilan ektopik terganggu tertinggi pada kelompok umur 20-40 tahun dengan umur rata-rata 30 tahun. Frekuensi kehamilan ektopik yang berulang dilaporkan berkisar antara 0% sampai 14.6% (1). Kasus kehamilan ektopik terganggu di RSUP dr. M. Djamil padang selama 3 tahun (tahun 1992-1994) ditemukan 62 kasus dari 10.612 kehamilan.
Menurut data yang diperoleh dari di Ruang Camar III bagian Rawat Inap Obstetri dan Ginekologi RSUD Arifin Achmad Pekanbaru, kasus kehamilan ektopik menduduki peringkat ke-8 dari 10 kasus Ginekologi terbanyak pada tahun 2004. Pada makalah ini akan dibahas lebih lanjut tantang masalah Kehamilan Ektopik Terganggu.
B.   Rumusan Masalah
1.    Apakah teori dasar dari KET ?
2.    Apakah asuhan keperawatan dari KET?

C.   Tujuan Penulisan
1.    Mengetahui teori dasar dari KET
2.    Mengetahui asuhan keperawatan dari KET





BAB II
TINJAUAN TEORI
A.   Defenisi
Kehamilan ektopik adalah kehamilan yang tempat implantasi/ nidasi/ melekatnya buah kehamilan di luar tempat yang normal, yakni di luar rongga rahim. Sedangkan yang disebut sebagai Kehamilan Ektopik Terganggu adalah suatu kehamilan ektopik yang mengalami abortus ruptur pada dinding tuba.
Suatu kehamilan disebut kehamilan ektopik bila zigot terimplantasi di lokasi-lokasi selain cavum uteri, seperti di ovarium, tuba, serviks, bahkan rongga abdomen. Istilah Kehamilan Ektopik Terganggu (KET) merujuk pada keadaan di mana timbul gangguan pada kehamilan tersebut sehingga terjadi abortus maupun ruptur yang menyebabkan penurunan keadaan umum pasien.
Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan ovum yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh di luar endometrium kavum uteri, kehamilan ektopik dapat terjadi di luar rahim misalnya dalam tuba, ovarium atau rongga perut. Tetapi dapat juga terjadi di dalam rahim di tempat yang luar biasa misalnya dengan servik atau dalam tanduk rudimeter rahim.

B.   Etiologi
Menurut Sarwono Prawirohardjo, Buku Ilmu Kebidanan (1976) dan Ilmu Kandungan 1989 adalah :
Penyebab kehamilan ektopik banyak diselidiki, tetapi sebagian besar penyebabnya tidak di ketahui, tiap kehamilan dimulai dengan pembuahan telur di bagian ampula tuba dan di dalam perjalanan ke uterus terus mengalami hambatan sehingga pada saat nidasi masaih di tuba.
Menurut Sarwono Prawirohardjo, Buku Ilmu Kebidanan (1976) Di antara sebab-sebab yang menghambat perjalanan ovum ke uterus sehingga mengadakan implantasi di tuba:
1.    Migratio Externa adalah perjalanan telur panjang terbentuk trofoblast sebelum telur ada cavum uteri.
2.    Pada hipoplasia lumen tuba sempit dan berkelok-kelok dan hal ini sering di sertai gangguan fungsi silia endosalping.
3.    Operasi plastic tuba dan sterilisasi yang tak sempurna dapat menjadi sebab lumen tuba menyempit
4.    Bekas radang pada tuba: disini radang menyebabkan perubahan pada endosalping sehingga walaupun fertilisasi masih dapat terjadi gerakan ovum ke uterus lambat.
5.    Kelainan bawaan pada tuba, antara lain difertikulum, tuba sangat panjang dsb.
6.    Gangguan fisilogis tuba karna pengaruh hormonal, perlekatan perituba. Tumor yang menekan dinding tuba dapat menyempitkan lumen tubuh.
7.    Abortus buatan.

C.   Epidemiologi
Sebagian besar wanita yang mengalami kehamilan ektopik berumur antara 20-40 tahun dengan umur rata-rata 30 tahun. Lebih dari 60% kehamilan ektopik terjadi pada wanita 20-30 tahun dengan sosio-ekonomi rendah dan tinggal didaerah dengan prevalensi gonore dan prevalensi tuberkulosa yang tinggi. Pemakaian antibiotik pada penyakit radang panggul dapat meningkatkan kejadian kehamilan ektopik terganggu. Diantara kehamilan-kehamilan ektopik terganggu, yang banyak terjadi ialah pada daerah tuba (90%).
Antibiotik dapat mempertahankan terbukanya tuba yang mengalami infeksi tetapi perlengketan menyebabkan pergerakan silia dan peristaltik tuba terganggu sehingga menghambat perjalanan ovum yang dibuahi dari ampula ke rahim dan berimplantasi ke tuba.
Penelitian Cunningham Di Amerika Serikat melaporkan bahwa kehamilan etopik terganggu lebih sering dijumpai pada wanita kulit hitam dari pada kulit putih karena prevalensi penyakit peradangan pelvis lebih banyak pada wanita kulit hitam. Frekuensi kehamilan ektopik terganggu yang berulang adalah 1-14,6%.
Di negara-negara berkembang, khususnya di Indonesia, pada RSUP Pringadi Medan (1979-1981) frekuensi 1:139, dan di RSUPN Cipto Magunkusumo Jakarta (1971-1975) frekuensi 1:24 , sedangkan di RSUP. DR. M. Djamil Padang (1997-1999) dilaporkan frekuensi 1:110.
Kontrasepsi IUD juga dapat mempengaruhi frekuensi kehamilan ektopik terhadap persalinan di rumah sakit. Banyak wanita dalam masa reproduksi tanpa faktor predisposisi untuk kehamilan ektopik membatasi kelahiran dengan kontrasepsi, sehingga jumlah persalinan turun, dan frekuensi kehamilan ektopik terhadap kelahiran secara relatif meningkat. Selain itu IUD dapat mencegah secara efektif kehamilan intrauterin, tetapi tidak mempengaruhi kejadian kehamilan ektopik.
Menurut penelitian Abdullah dan kawan-kawan (1995-1997) ternyata paritas 0-3 ditemukan peningkatan kehamilan ektopik terganggu. Pada paritas >3-6 terdapat penurunan kasus kehamilan ektopik terganggu. Cunningham dalam bukunya menyatakan bahwa lokasi kehamilan ektopik terganggu paling banyak terjadi di tuba (90-95%), khususnya di ampula tuba (78%) dan isthmus (2%). Pada daerah fimbrae (5%), intersisial (2-3%), abdominal (1-2%), ovarium (1%), servikal (0,5%) (5)
D.   Manifestasi Klinis
1.    Amenore
2.    Gejala kehamilan muda
3.    Nyeri perut bagian bawah, pada ruptur tuba nyeri terjadi tiba-tiba dan hebat, menyebabkan penderita pingsan sampai shock. Pada Abortus tuba nyeri mula-mula pada satu sisi, menjalar ke tempat lain. Bila darah sampai diafragma bisa menyebabkan nyeri bahu dan bila terjadi hematokel retrouterina terdapat nyeri defekasi,
4.    Perdarahan pervapina berwarna cokelat tua.
5.    Pada pemeriksaan vagina terdapat nyeri goyang bila serviks digerakkan, nyeri pada perabaan dan kavum douglasi menonjol karena ada bekuan darah (Mansjoer A, 2000 ; 267).

E.   Pemeriksaan Penunjang
1.    Pemeriksaan laboratorium
2.    Pemeriksaan darah lengkap
3.    Pemeriksaan kadar hormon progesteron
4.    Pemeriksaan kadar HCG serum
5.    Pemeriksaan golongan darah
6.    Kuldosentesis (Pengambilan cairan peritoneal dari ekstra vasio rektou terina (ruang Douglas), melalui tindakan pungsi melalui dinding vagina).
7.    Ultrasonografi (USG)




BAB IV
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A.   Pengkajian
1.    Biodata
a.       Nama Sebagai identitas bagi pelayanan kesehatan/Rumah Sakit/ Klinik atau catat apakah klien pernah dirawat disini atau tidak.
b.      Umur
Digunakan sebagai pertimbangan dalam memberikan terapi dan tindakan, juga sebagai acuan pada umur berapa penyakit/kelainan tersebut terjadi. Pada keterangan sering terjadi pada usia produktif 25 - 45 tahun (Prawiroharjo S, 1999 ; 251).
c.       Alamat
Sebagai gambaran tentang lingkungan tempat tinggal klien apakah dekat atau jauh dari pelayanan kesehatan khususnya dalam pemeriksaan kehamilan.
d.      Pendidikan.
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan klien sehingga akan memudahkan dalam pemberian penjelasan dan pengetahuan tentang gejala / keluhan selama di rumah atau Rumah Sakit.
e.      Status Perkawinan
Dengan status perkawinan mengetahui berapa kali klien mengalami kehamilan (KET) atau hanya sakit karena penyakit lain yang tidak ada hubungannya dengan kehamilan
f.        Agama
Untuk mengetahui gambaran dan spiritual klien sehingga memudahkan dalam memberikan bimbingan keagamaan.
g.       Nama Suami
Agar diketaui siapa yang bertanggung jawab dalam pembiayaan dan pemberian persetujuan dalam perawatan.
h.      Pekerjaan
Untuk mengetahui keadaan aktivitas sehari-hari dari klien, sehingga memungkinkan menjadi faktor resiko terjadinya KET.
2.    Keluhan Utama
Nyeri hebat pada perut bagian bawah dan disertai dengan perdarahan selain itu klien ammeorrhoe.
3.    Riwayat Penyakit Sekarang
Awalnya wanita mengalami ammenorrhoe beberapa minggu kemudian disusul dengan adanya nyeri hebat seperti disayat-sayat pada mulanya nyeri hanya satu sisi ke sisi berikutnya disertai adanya perdarahan pervagina
a.    Kadang disertai muntah
b.    Keadaan umum klien lemah dan adanya shock
c.    Terkumpulnya darah di rongga perut:
d.    Menegakkan dinding perut                   Nyeri
Dapat juga menyebabkan nyeri hebat sehingga klien pingsan
Perdarahan           terus menerus                      kemungkinan terjadi shock hipovolemik.
4.    Riwayat Penyakit Masa lalu
a.       Mencari faktor pencetus misalnya adanya riwayat endomatritis, addresitis                 menyebabkan perlengkapan endosalping.                
                   Tuba menyempit / membantu.
b.      Endometritis              endometritis tidak baik bagian nidasi.
5.    Status Genekologi
a.    Usia perkawinan
Sering terjadi pada usia produktif 25 - 45 tahun, berdampak bagi psikososial, terutama keluarga yang masih mengharapkan anak.
b.    Riwayat persalinan yang lalu.
Apakah klien melakukan proses persalinan di petugas kesehatan atau di dukun
c.    Grade multi.
d.    Abortus yang sering                   curettage yang sering.
e.    Riwayat penggunaan alat kontrasepsi.Seperti penggunaan IUD
f.     Adanya keluhan haid, keluarnya darah haid dan bau yang menyengat. Kemungkinan adanya infeksi.
6.    Riwayat kesehatan keluarga
a.    Hal yang perlu dikaji                kondisi kesehatan suami
b.    Suami mengalami infeksi system urogenetalia, dapat menular pada istri dan dapat mengakibatkan infeksi pada celvix.
7.    Riwayat psikososial      
Tindakan salpingektomi menyebabkan infertile. Mengalami gangguan konsep diri, selain itu menyebabkan kekhawatiran atau ketakutan.
8.    Pada kebiasaan sehari-hari
Pola aktivitas sehari-hari yang perlu dikaji pada kehamilan ektopik adalah :
a.    Pola Nutrisi
Pada rupture tube keluhan yang paling menonjol selain nyeri adalah Nausea dan vomiting karena banyaknya darah yang terkumpul di rongga abdomen
b.    Eliminasi
Pada BAB klien ini dapat menimbulkan resiko terhadap konstipasi itu diakibatkan karena penurunan peristaltik usus, imobilisasi, obat nyeri, adanya intake makanan dan cairan yang kurang. Sehingga tidak ada rangsangan dalam pengeluaran faeces. Pada BAK klien mengalami output urine yang menurun < 1500 ml/hr, karena intake makanan dan cairan yang kurang.
c.    Personal Hygiene
Luka operasi dapat mengakibatkan pembatasan gerak, takut untuk melakukan aktivitas karena adanya kemungkinan timbul nyeri, sehingga dalam personal hygiene tergantung pada orang lain.
d.    Pola Aktivitas (istirahat tidur)
e.    Terjadi gangguan istirahat, nyeri pada saat infeksi/defekasi akibat hematikei retropertonial            menumpuk pada cavum Douglas
9.    Pemeriksaan Fisik
a.    Keadaan Umum
Tergantung banyaknya darah yang keluar dan tuba, keadaan umum ialah kurang lebih normal sampai gawat dengan shock berat dan anemi (Prawiroharjo, 1999 ; 255).
b.    Pemeriksaan kepala dan leher
Muka dan mata pucat, conjungtiva anemis (Prawiroharjo, 1999 ; 155)
c.    Pemeriksaan leher dan thorax
1.    Tanda-tanda kehamilan ektopik terganggu tidak dapat diidentifikasikan melalui leher dan thorax
2.    Payudara pada KET, biasanya mengalami perubahan.
d.    Pemeriksaan Abdomen
Pada abortus tuba terdapat nyeri tekan di perut bagian bawah disisi uterus, dan pada pemeriksaan luar atau pemeriksaan bimanual ditemukan tumor yang tidak begitu padat, nyeri tekan dan dengan batas-batas yang tidak rata disamping uterus. Hematokel retrouterina dapat ditemukan. Pada repture tuba perut menegang dan nyeri tekan, dan dapat ditemukan cairan bebas dalam rongga peritoneum. Kavum Douglas menonjol karena darah yang berkumpul ditempat tersebut baik pada abortus tuba maupun pada rupture tuba gerakan pada serviks nyeri sekali (Prawiroharjo S, 1999, hal 257).
e.    Pemeriksaan Genetalia
1.    Sebelum dilakukan tindakan operasi pada pemeriksaan genetalia eksterna dapat ditemukan adanya perdarahan pervagina. Perdarahan dari uterus biasanya sedikit- sedikit, berwarna merah kehitaman.
2.    Setelah dilakukan tindakan operasi pada pemeriksaan genetalia dapat ditemukan adanya darah yang keluar sedikit.
f.     Pemeriksaan Ekstrimitas
Pada ekstrimitas atas dan bawah biasanya ditemukan adanya akral dingin akibat syok serta tanda-tanda cyanosis perifer pada tangan dan kaki
10. Pemeriksaan Penunjang
a.    Pemeriksaan umum Penderita tampak kesakitan dan pucat, pada perdarahan dalam rongga perut tanda-tanda syok dapat ditemukan pada jenis tidak mendadak perut bagian bawah hanya sedikit mengembung dan nyeri tekan.
b.    Pemeriksaan Genekologi
Tanda-tanda kehamilan muda mungkin ditemukan, pergerakan serviks menyebakan rasa nyeri. Bila uterus dapat diraba, maka akan teraba sedikit membesar dan kadang-kadang teraba tumor disamping uterus dengan batas yang sukar ditentukan. Kavum Douglas yang menonjol dan nnyeri raba merunjukkan adanya hematokel retrouterina, suhu kadang-kadang naik, sehingga menyukarkan perbedaaan dengan infeksi serviks.
c.    Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan hemoglobin dan jumlah sel darah merah berguna dalam menegakkan diagnosisi kehamilan ektopik terganggu, terutama bila ada tanda-tanda perdarahan dalam rongga perut. Pada kasus jenis tidak mendadak biasanya ditemukan anemia, tetapi harus diingat bahwa penurunan hemoglobin baru terlihat setelah 24 jam (Prawiroharjo S, 2002 ; 330).

B.   Analisa Data
Analisa data adalah kemampuan menggabungkan data dan mengkaitkan data tersebut dengan konsep yang relevan untuk membuat kesimpulan dalam menentukan masalah kesehatan dan keperawatan.
Dalam analisa data ini pengelompokan data dilakukan berdasarkan reaksi baik subyektif maupun obyektif yang digunakan untuk menentukan masalah dan kemungkinan penyebab.

C.   Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan merupakan suatu pernyataan yang menjelaskan respons manusia (status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu atau kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah (Carpenito, 2000).
Diagnosa yang mungklin timbul pada kehamilan ektopik terganggu adalah sebagai berikut :
1.    Gangguan pemenuhan kebutuhan cairan tubuh berhubungan dengan perdarahan.
Rasional :            Adanya darah yang keluar dari vagina dan perdarahan intra abdominal dapat mengakibatkan kurangnya cairan tubuh.
2.    Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan adanya rupture tuba atau robekan lapisan pelvis.
Rasional :            Adanya pemutusan jaringan dalam tubuh akan menimbulkan rangsangan saraf meningkat sehingga timbul rasa nyeri yang dapat menimbulkan gangguan rasa nyaman pada klien.
3.    Porensial shock berhubungan dengan perdarahan yang hebat
Rasional :            Rupture tuba mengakibatkan terjadinya perdarahan yang banyak sehingga volume darah dalam tubuh berkurang. Adanya darah kurang dapat terjadi penurunan cardiac output sehingga menimbulkan.
4.    Gangguan psikologis (cemas) berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang kesuburan yang terancam.
Rasional:             Setiap orang berbeda pandangan dalam menghadapi tindakan pembedahan yang akan dilaksanakan sehingga responnya berbeda pula, cemas merupakan respon emosi klien adalah kejadian normal ketika klien dihadapkan pada hal yang asing baginya.
D.   Intervensi
Perencanaan merupakan bagian dari fase pengorganisasian dalam proses keperawatan yang meliputi tujuan perawatan penetapan pencegahan masalah dan menentukan tujuan perencanaan untuk mengatasi masalah klien (Hidayat A. Azis Alimul, 2001 ; 30).
Rencana keperawatan pada klien kehamilan ektopik terganggu adalah sebagai berikut :
1.    Gangguan pemebuhan kebutuhan cairan tubuh sehubungan dengan perdarahan.
a.    Tujuan           : Perdarahan terhenti
b.    Kriteria evaluasi       :           Tidak ada tanda-tanda shock
c.    Intervensi      :
1)    Kaji perdarahan (jumlah, warna, gumpalan)
       Rasional :    Untuk mengetahui adanya gejala shock.
2)    Cek Hemoglobin
       Rasional :    Mengetahui adanya enemi atau tidak
3)    Anjurkan klien untuk banyak minum
       Rasional :   Dengan banyak minum maka dapat membantu mengganti cairan tubuh yang hilang.
4)    Kolaborasi dengan tim medis tentang pemberian tranfusi darah
       Rasional :    Untuk mengganti perdarahan yang banyak keluar.
2.    Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan adanya tuba atau robekan lapisan pelvis.
a.    Tujuan        :  Nyeri berkurang sampai hilang
b.    Kriteria evaluasi       :           Ekspresi wajah klien tidak menyeringai menahan nyeri
c.    Intervensi
1)    Kaji tingkat nyeri klien
       Rasional :    Untuk mengetahui tingkat nyeri klien dar mengetahui tindakan yang akan dilakukan selanjutnya.
2)    Kaji durasi, lokasi, frekuensi, jenis nyeri (akut, kronik, mendadak, terus - menerus)
       Rasional :   Dengan mengetahui hal tersebut diatas dapat mengetahui tingkat dan jenis nyeri sehingga mempermudah intervensi selanjutnya.
3)    Ciptakan lingkungan yang nyaman bagi klien.
       Rasional :    Dengan menciptakan lingkungan yang nyaman bagi klien akan dapat mengurangi rasa nyeri klien, karena lingkungan yang tidak menambah persepsi nyeri klien.
4)    Anjurkan tehnik relaksasi, distraksi
       Rasional :   Dengan mengajarkan tehnik relaksasi, distraksi dapat meringankan nyeri.
5)    Kompres Dingin
       Rasional :   Dengan memberikan kompres dingin akan memberikan rasa nyaman pada klien sehingga dapat mengurangi rasa nyeri.
6)    Berikan support system
       Rasional :    Dengan memberikan support system agar ibu dapat mengerti tentang perubahan bentuk tubuhnya yang cepat karena ada kelainan pada tubuhnya sehingga ibu dapat tenang pada saat dilakukan tindakan.
7)    Lakukan massage pada klien
       Rasional :    Dengan melakukan massage akan memberikan rasa nyaman pada ibu.
8)    Atur posisi yang nyaman bagi klien
       Rasional :   Dengan mengatur posisi yang nyaman bagi klien akan mengurangi rasa nyeri
9)    Kolaborasi dengan tim medis
       Rasional :    Berkolaborasi akan membantu di dalam memberikan terapi analgesic.
3.    Potensial Shock sehubungan dengan perdarahan yang hebat
a.    Tujuan        :  Perdarahan berhenti
b.    Kriteria evaluasi       :           Hb klien normal ( 11 - 13 ) gr %
c.    Intervensi
1)    Monitor tanda - tanda vital
       Rasional :   Monitor tanda-tanda vital akan mengetahui keadaan dan perkembangan klien.
2)    Kaji perdarahan (jumlah, warna, gumpalan)
       Rasional :    Mengkaji perdarahan, jumlah, warna, gumpalan akan mengetahui gejala-gejala shock.
3)    Cek Hemoglobin
       Rasional :    Cek Hb akan mengetahui keadaan Hb klien.
4)    Pasang infus
       Rasional :    Memberikan infus akan menggantikan cairan yang keluar.
5)    Lakukan pemeriksaan rhesus golongan darah
       Rasional :    Pemeriksaan tersebut memudahkan melakukan transfusi
6)    Berikan transfusi darah
       Rasional :    Memberikan transfusi darah akan menggantikan banyaknya darah yang keluar
7)    Observasi tanda-tanda shock
       Rasional :    Mengobservasi tanda-tanda shock akan dapat segera mengetahui adanya kemungkinan shock.
4.    Gangguan psikologis (cemas) berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang kesuburan yang terancam
a.    Tujuan           :           Rasa cemas klien hilang
b.    Kriteria evaluasi : Klien       dapat  mengungkapkan perasaannya secara terbuka
c.    Intervensi :
1)    Kaji tingkat kecemasan
       Rasional :   Mengetahui tingkat kecemasan akan mengetahui tingkat cemas klien.
2)    Kaji tingkat pengetahuan klien
       Rasional :   Mengkaji tingkat pengetahuan klien akan dapat mengetahui latar belakang kehidupan klien.
3)    Ajak klien untuk lebih terbuka
       Rasional :    Sikap terbuka akan mudah mengungkap masalah yang dihadapi klien yang dapat membantu penyembuhan.
4)    Berikan penjelasan tentang proses penyakit yang sedang diderita.
       Rasional :    Memberikan penjelasan pada klien akan membantu menenangkan jiwa klien.
5)    Anjurkan pada keluarga untuk memberikan support system.
       Rasional : Memberikan support sistem akan membantu memberikan semangat bagi klien.

E.   Pelaksanaan
Pelaksanaan merupakan inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik (Iyar et. al., 1996). Dari pernyataan diatas dapat diungkapkan bahwa pelaksanaan realisasi dari rencana asuhan keperawatan yang telah disusun. Dalam pelaksanaan ini harus disesuaikan dengan sumber data, sarana dan prasarana yang ada. Partisipasi dari klien dan keluarganya sangat diperlukan dalam pelaksanaan ini serta peran dan fungsi perawatan harus dapat dijalankan dengan komprehensif, selain itu perawat juga berkolaborasi dengan anggota tim kesehatan yang lain.
F.    Evaluasi
Evaluasi adalah sebagai sesuatu yang direncanakan dan perbandingan yang sistematik pada status kesehatan klien (Nursalam, 2001 ; 71).Yang dimaksud tujuan tercapai jika klien menunjukkan perubahan sesuai kriteria yang ditetapkan. Tujuan tercapai sebagian bila klien hanya menunjukkan perubahan sebagian dari kriteria yang ditetapkan. Sedang tujuan tidak tercapai jika klien tidak menunjukkan perubahan / kemajuan sama sekali. Adapun untuk mengetahui itu berhasil / tidak dapat menggunakan metode dengan catatan perkembangan (Subyektif data, obyektif data, Analisa data, plan / SOAP).
















BAB IV
PENUTUP
A.   Kesimpulan
Kehamilan Ektopik Terganggu adalah suatu kehamilan ektopik yang mengalami abortus ruptur pada dinding tuba.
Suatu kehamilan disebut kehamilan ektopik bila zigot terimplantasi di lokasi-lokasi selain cavum uteri, seperti di ovarium, tuba, serviks, bahkan rongga abdomen.

B.   Saran
Lakukanlah asuhan keperawatan sesuai dengan teori yang sudah dipelajari dan sesuai dengan situasi dan kondisi maupun instrument kesehatan yang ada di rumah sakit. Jangan lupa juga untuk selalu memperhatikan SOP bila prosedur yang kita lakukan di rumah sakit

0 komentar:

Posting Komentar