Pages

Sabtu, 06 Oktober 2012

TRIAGE DAN MANJEMEN GAWAT DARURAT


TRIAGE

A. Defenisi Triage

Suatu sistem seleksi penderita yang menjamin supaya tidak ada penderita yang tidak mendapat perawatan (kapukonline.com). Sebuah tindakan pengelompokan pasien berdasarkan berat ringannya kasus, harapan hidup dan tingkat keberhasilan yang akan dicapai sesuai dengan standar pelayanan UGD yang dimiliki (kompasiana.com)
Triage is derived from french word, “trier,” meaning to sort out.  It was first used by the french military during world war I, when victim were sorted and clasified according to the type and urgency of their condition for the purpose of determining medical treatment priorities (Grossman, 2003)
Tujuan utama adalah untuk mengidentifikasi kondisi mengancam nyawa . Tujuan kedua adalah untuk memprioritaskan pasien menurut ke akutannya . Pengkatagorian mungkin ditentukan sewaktu-waktu. Jika ragu, pilih prioritas yang lebih tinggi untuk menghindari penurunan triage.

     B. Golongan Triage
Dalam triage ada 5 golongan
1.    Golongan I (Label Hijau) :
Penderita tidak luka / menderita gangguan jiwa sehingga tidak memerlukan tindakan bedah.
2.    Golongan II (Label Kuning) :
Penderita dengan luka ringan dan memerlukan tindakan bedah minor.
3.    Golongan III (Label Merah) :
Penderita keadaan luka berat / syok.
4.    Golongan IV (Label Putih) :
Penderita dengan luka berat tetapi sulit ditolong
5.    Golongan V (Label Hitam) :
Penderita meninggal dunia

    C. Sistem Triage
Sistem triage ada 2 yaitu :
1.    Non Disaster
Untuk menyediakan perawatan sebaik mungkin bagi setiap individu pasien
2.    Disaster
Untuk menyediakan perawatan yang lebih efektif untuk pasien dalam jumlah banyak

   D. Tipe-tipe Triage di Rumah Sakit
1.    Type 1 : Traffic Director or Non Nurse
a.    Hampir sebagian besar berdasarkan system triage
b.    Dilakukan oleh petugas yang tak berijasah
c.    Pengkajian minimal terbatas pada keluhan utama dan seberapa sakitnya
d.    Tidak ada dokumentasi
e.    Tidak menggunakan protocol

2.    Type 2 : Cek Triage Cepat
a.    Pengkajian cepat dengan melihat yang dilakukan perawat beregristrasi atau dokter
b.    Termasuk riwayat kesehatan yang berhubungan dengan keluhan utama
c.    Evaluasi terbatas
d.    Tujuan untuk meyakinkan bahwa pasien yang lebih serius atau cedera mendapat perawatan pertama

3.    Type 3 : Comprehensive Triage
a.    Dilakukan oleh perawat dengan pendidikan yang sesuai dan berpengalaman
b.    4 sampai 5 sistem katagori
c.    Sesuai protokol

   E. Klasifikasi Triage Berdasarkan Kasus
1.    Prioritas 1 – Kasus Berat
a.    Perdarahan berat
b.    Asfiksia, cedera cervical, cedera pada maxilla
c.    Trauma kepala dengan koma dan proses shock yang cepat
d.    Fraktur terbuka dan fraktur compound
e.    Luka bakar > 30 % / Extensive Burn
f.     Shock tipe apapun

2.    Prioritas 2 – Kasus Sedang
a.    Trauma thorax non asfiksia
b.    Fraktur tertutup pada tulang panjang
c.    Luka bakar terbatas
d.    Cedera pada bagian / jaringan lunak

3.    Prioritas 3 – Kasus Ringan
a.    Minor injuries
b.    Seluruh kasus-kasus ambulant / jalan

4.    Prioritas 0 – Kasus Meninggal
a.    Tidak ada respon pada semua rangsangan
b.    Tidak ada respirasi spontan
c.    Tidak ada bukti aktivitas jantung
d.    Tidak ada respon pupil terhadap cahaya 



MANAJEMEN GAWAT DARURAT
   A. Defenisi Manajemen Gawat Darurat
Manajemen Gawat Darurat Dalam sebuah pelayanan kesehatan tentunya juga tidak terlepas dari sebuah unit yang menangani kegawatdaruratan dan di rumah sakit biasa kita kenal dengan nama dan istilah Unit Gawat Darurat (UGD).

   B. Prinsip Manajemen Gawat Darurat
1.    Bersikap tenang tapi cekatan dan berpikir sebelum bertindak (jangan panik).
2.    Sadar peran perawat dalam menghadapi korban dan wali ataupun saksi.
3.    Melakukan pengkajian yang cepat dan cermat terhadap masalah yang mengancam jiwa (henti napas, nadi tidak teraba, perdarahan hebat, keracunan).
4.    Melakukan pengkajian sistematik sebelum melakukan tindakan secara menyeluruh. Pertahankan korban pada posisi datar atau sesuai (kecuali jika ada ortopnea), lindungi korban dari kedinginan.
5.    Jika korban sadar, jelaskan apa yang terjadi, berikan bantuan untuk menenangkan dan yakinkan akan ditolong.
6.    Hindari mengangkat/memindahkan yang tidak perlu, memindahkan jika hanya ada kondisi yang membahayakan.
7.    Jangan diberi minum jika ada trauma abdomen atau perkiraan kemungkinan tindakan anastesi umum dalam waktu dekat.
8.    Jangan dipindahkan (ditransportasi) sebelum pertolongan pertama selesai dilakukan dan terdapat alat transportasi yang memadai.

   C. Kesiapan Dalam Gawat Darurat
1.    Siap mental, dalam arti bahwa ”emergency can not wait”. Setiap unsur yang terkait termasuk perawat harus menghayati bahwa aritmia dapat membawa kematian dalam 1 – 2 menit. Apnea atau penyumbatan jalan napas dapat mematikan dalam 3 menit.
2.    Siap pengetahuan dan ketrampilan. Perawat harus mempunyai bekal pengetahuan teoritis dan patofisiologi berbagai penyakit organ tubuh penting. Selain itu juga keterampilan manual untuk pertolongan pertama.
3.    Siap alat dan obat. Pertolongan pasien gawat darurat tidak dapat dipisahkan dari penyediaan/logistik peralatan dan obat-obatan darurat.

   D. Urutan Pertolongan Dalam Keadaan Gawat Darurat
1.    Bila mungkin, minta orang lain untuk memanggil dokter/ambulan sementara anda melakukan pertolongan pertama.
2.    Periksa pernafasan. Bila berhenti, segera mulai dengan pernafasan dari (resusitas) mulut ke mulut. Prioritas utama adalah mengusahakan penderita bernafas kembali kecuali pada penderita kasus tersedak.
3.    Periksa adanya perdarahan hebat. Bila ada, hentikan perdarahan
4.    Bila menduga adanya cedera tulang, belakang, jangan merubah posisi penderita. (Cidera tulang belakang bisa terjadi bila penderita jatuh dari tempat tinggi, kecelakaan lalu lintas yang serius, atau mengalami rasa kebal/hilang rasa/tidak bisa menggerakkan anggota tubuh atas ataupun bawah).
5.    Bila penderita pingsan tetapi pernafasan normal tanpa cedera tulang belakang, baringkan dalam posisi istirahat.
6.    Jangan meninggalkan penderita sebelum petugas medis datang. Bila anda sendirian dan tidak mungkin memanggil petugas medis, tetapi tidak ada cedera tulang belakang dan keadaan penderita cukup stabil, bawa penderita ke Unit gawat darurat di rumah sakit/Puskesmas terdekat.

0 komentar:

Posting Komentar