Pages

Jumat, 16 Agustus 2013

ANATOMI DAN HISTOLOGI KULIT




ANATOMI DAN HISTOLOGI KULIT

Kulit adalah organ terbesar dan menempati 16%dari total berat tubuh. Kulit berfungsi pada termoregulasi, proteksi, fungsi metabolis dan sensasi.
1.      Lapisan Kulit 
Kulit terdiri atas tiga lapisan : A. Lapisan Epidermis Epidermis terdiri dari epitel gepeng berlapis yang bertanduk. Epidermis mengandung 4 macam sel : 
a.       keratinosit Keratinosit adalah materi yang membentuk lapisan terluar kulit dan memproduksi keratin,protein keras yang menjadi bahan utama rambut, kulit, dan kuku. Mereka dihasilkan pada lapisandasar epidermis, yang secara bertahap naik melalui berbagai lapisan epidermis yang berbeda danakhirnya tanggal. 
b.       melanosit Sel melanosit adalah sel penghasil pigmen (melanin) yang paling banyak terdapat di daerahanogenital, ketiak, dan puting susu. Terbanyak kedua adalah daerah wajah. Sedangkan yangpaling sedikit ada di lengan atas bagian dalam. Kulit yang gelap menandakan kandungan melanindalam jumlah banyak, begitu juga sebaliknya. 
c.       sel Langerhans Sel Langerhans berbentuk bintang terutama ditemukan dalam stratum spinosum dari epidermis.Sel langerhans merupakan makrofag turunan sumsum tulang yang mampu mengikat, mengolah,dam menyajikan antigen kepada limfosit T, yang berperan dalam perangsangan sel limfosit T. 
d.      sel Merkel Sel Merkel bentuknya mirip dengan keratinosit yang juga memiliki desmosom biasanya terdapatdalam kulit tebal telapak tangan dan kaki.juga terdapat di daerah dekat anyaman pembuluh darahdan serabut syaraf. Berfungsi sebagai penerima rangsang sensoris. 

A.    Epidermis terdiri dari 5 lapisan :
1.      Stratum Basal (stratum germinativum)
Merupakan lapisan terdalam, terdiri dari lapisantunggal dari sel berbentuk silindris atau kuboid.Stratum basal berisi sel induk, ditandai denganadanya aktivitas mitosis yang intens. Sel-sel baruyang dibentuk melalui mitosis ini akan mengisilapisan di atasnya. Semua sel pada stratum basalbersisi filamen keratin intermediat yangberdiameter 10nm. Seiring peningkatan sel ke atas, jumlah filamen meningkat sampai mewakiliseparuh dari jumlah protein total pada stratumkorneum. 
2.       Stratum Spinosum 
Di atas stratum basal terdapat beberapa lapisan selpoligonal yang membentuk stratum spinosum. Sel-sel lapisan ini terikat satu sama lain oleh desmosom. Sel-sel sering mengkerut, akibatnya tampak seolah-olah berduri. Inilah sebabnya sel-selnya disebut  prickle (berduri). Pada stratum spinosumdimulai proses keratinisasi. Sitoplasma sel lapisan ini banyak fibrilnya yang melekat padadinding sel pada desmosom. Lapisan sel basal dan stratum spinosum bersama-sama disebutsebagai zona germinatif epidermis. 
3.      Stratum Granulosum 
Terdapat 3-5 lapisan sel gepeng yang ditandai granula gelap di dalam sitoplasmanya. Granulanyaterdiri atas protein yang disebut keratohialin. Inti pada sel ini tampak gelap dan padat (piknotik). 
4.       Stratum Lusidum 
Lucid berarti terang atau jernih. Stratum lusidum tampak homogen, batas sel tidak jelas samasekali. Sisa-sisa inti sel gepeng terlihat pada beberapa sel. Sitoplasma mengandung turunankeratohialin yang disebut eleidin. 
5.       Stratum Korneum 
Lapisan ini merupakan lapisan yang paling superfisial. Sel-sel lapisan ini sudah mati, tanpa intidan organel. Mereka sangat gepeng dan mirip sisik. Terdapat protein keratin yang berasal darieleidin. Sel-sel stratum korneum disatukan oleh lapisan lipid, yang membuat lapisan ini kedapair. 



B.     Lapisan Dermis 
Dermis terdiri dari jaringan ikat yang menyokong epidermis dan mengikatnya pada jaringansubkutan (hipodermis) Permukaan dermis sangat tidak teratur dan memiliki banyak tonjolan(papila dermal) yang menyambung pada tonjolan epidermis. 
Dermis mengandung 4 macam sel : a. fibroblas b. makrofag c. melanosit d. lemak  
Dermis terdiri dari 2 lapisan : 
a.       Stratum Papilare 
Terdiri dari jaringan ikat longgar, fibroblas, dan sel jaringan ikat lain , seperti sel mast danmakrofag. Disebut stratum papilare karena menyumbang bagian besar dari papila dermal.
b.       Stratum Retikular 
Lebih tebal, dan terdiri dari jaringan ikat padat tidak teratur, misalnya serabut kolagen, elastin,dan retikulin. Kolagen muda bersifat lentur dengan bertambah umur menjadi kurang larutsehingga makin stabil. Memiliki lebih banyak serat dan lebih sedikit sel daripada stratumpapilare. Bagian bawahnya menonjol ke arah subkutan.
C.     Lapisan Subkutan 
Merupakan kelanjutan dermis, terdiri atas jaringan ikat longgar berisi sel-sel lemak. Lapisan sel-sel lemak disebut panikulus adiposa, berfungsi sebagai cadangan makanan. Di lapisan initerdapat ujung-ujung saraf tepi, pembuluh darah, dan getah bening. Tebal tipisnya jaringanlemak tidak sama. Di abdomen dapat mencapai ketebalan 3 cm, di daerah kelopak mata danpenis sangat sedikit. Lapisan lemak ini juga merupakan bantalan. 
Kulit memiliki 2 jenis kelenjar keringat:
a. kelenjar keringat apokrin
b. kelenjar keringat merokrin 
Di samping itu, kelenjar serumen, yang memproduksi kotoran telinga, dan kelenjar susu, seringdianggap sebagai modifikasi kelenjar keringat. 


2.              Turunan Kulit
A.  Kelenjar Kulit 
a.               Kelenjar Sebasea
Kelenjar sebasea terdapat pada dermis. Paling banyak terdapat pada wajah, dahi, dan kulitkepala. Kelenjar ini bermuara pada leher folikel rambut dan sekret yang dihasilkan berlemak (sebum). Berguna untuk meminyaki rambut dan permukaan kulit. Kelenjar ini bersifat holokrin,karena produk sekresinya dilepaskan dengan sisa sel mati. Kelenjar sebasea biasanya disertaidengan folikel rambut kecuali pada palpebra, papila mammae, labia minora. 
b.       Kelenjar Keringat 
Manusia memiliki 3 juta kelenjar keringat. Kelenjar keringat dapat ditemukan di dermis.Tersebar pada hampir seluruh kulit, kecuali pada bagian tertentu seperti glans penis. Palingbanyak terdapat di permukaan tangan dan kaki. Ada 2 macam kelenjar keringat yaitu kelenjarekrin yang kecil-kecil, terletak dalam dangkal dermis dengan sekret yang encer dan kelenjarapokrin yang lebih besar, terletak lebih dalam dan sekretnya lebih kental. 

B.      KukuKuku adalah bagian terminal lapisan tanduk yang menebal. Kuku antara lain terbentuk darikeratin protein yang kaya akan sulfur. Pada kulit di bawah kuku terdapat banyak pembuluhkapiler yang memiliki suplai darah kuat sehingga menimbulkan warna kemerah-merahan. Sepertitulang dan gigi, kuku merupakan bagian terkeras dari tubuh karena kandungan airnya sangatsedikit. Pertumbuhan kuku jari tangan dalam satu minggu rata-rata 0,5 - 1,5 mm, empat kalilebih cepat dari pertumbuhan kuku jari kaki

C.  Rambut Merupakan struktur berkeratin panjang yang berasal dari invaginasi epitel epidermis. Rambutditemukan diseluruh tubuh kecuali pada telapak tangan, telapak kaki, bibir, glans penis, klitorisdan labia minora. Pertumbuhan rambut pada daerah-daerah tubuh seperti kulit kepala, muka, danpubis sangat dipengaruhi tidak saja oleh hormon kelamin-terutama androgen-tetapi juga olehhormon adrenal dan hormon tiroid. Setiap rambut berkembang dari sebuah invaginasi epidermal,yaitu folikel rambut yang selama masa pertumbuhannya mempunyai pelebaran pada ujungdisebut bulbus rambut. Pada dasar bulbus rambut dapat dilihat papila dermis. Papila dermismengandung jalinan kapiler yang vital bagi kelangsungan hidup folikel rambut. Ada dua macamtipe rambut, yaitu rambut lanugo dan rambut terminal. Komposisi rambut terdiri atas karbon50,60%, hidrogen 6,36%, nitrogen 17,14%, sulfur 5,0%, dan oksigen 20,80%. Rambt dapatdibentuk dengan mempengaruhi gugus disulfida misalnya dengan panas atau bahan kimia.

Pengaturan Suhu Tubuh
Faktor Yang Mempengaruhi Suhu Tubuh
1.  Kecepatan metabolisme basal
Kecepatan metabolisme basal tiap individu berbeda-beda. Hal ini memberi dampak jumlah panas yang diproduksi tubuh menjadi berbeda pula. Sebagaimana disebutkan pada uraian sebelumnya, sangat terkait dengan laju metabolisme.
2.   Rangsangan saraf simpatis
     Rangsangan saraf simpatis dapat menyebabkan kecepatan metabolisme menjadi 100% lebih cepat. Disamping itu, rangsangan saraf simpatis dapat mencegah lemak coklat yang tertimbun dalam jaringan untuk dimetabolisme. Hamper seluruh metabolisme lemak coklat adalah produksi panas. Umumnya, rangsangan saraf simpatis ini dipengaruhi stress individu yang menyebabkan peningkatan produksi epineprin dan norepineprin yang meningkatkan metabolisme.
3.  Hormone pertumbuhan
Hormone pertumbuhan ( growth hormone ) dapat menyebabkan peningkatan kecepatan metabolisme sebesar 15-20%. Akibatnya, produksi panas tubuh juga meningkat.
4.    Hormone tiroid
Fungsi tiroksin adalah meningkatkan aktivitas hamper semua reaksi kimia dalam tubuh sehingga peningkatan kadar tiroksin dapat mempengaruhi laju metabolisme menjadi 50-100% diatas normal.
5.  Hormone kelamin
Hormone kelamin pria dapat meningkatkan kecepatan metabolisme basal kira-kira 10-15% kecepatan normal, menyebabkan peningkatan produksi panas. Pada perempuan, fluktuasi suhu lebih bervariasi dari pada laki-laki karena pengeluaran hormone progesterone pada masa ovulasi meningkatkan suhu tubuh sekitar 0,3 – 0,6°C di atas suhu basal.
6.  Demam ( peradangan )
Proses peradangan dan demam dapat menyebabkan peningkatan metabolisme sebesar 120% untuk tiap peningkatan suhu 10°C.
7.  Status gizi
Malnutrisi yang cukup lama dapat menurunkan kecepatan metabolisme 20 – 30%. Hal ini terjadi karena di dalam sel tidak ada zat makanan yang dibutuhkan untuk mengadakan metabolisme. Dengan demikian, orang yang mengalami mal nutrisi mudah mengalami penurunan suhu tubuh (hipotermia). Selain itu, individu dengan lapisan lemak tebal cenderung tidak mudah mengalami hipotermia karena lemak merupakan isolator yang cukup baik, dalam arti lemak menyalurkan panas dengan kecepatan sepertiga kecepatan jaringan yang lain.
8.  Aktivitas
Aktivitas selain merangsang peningkatan laju metabolisme, mengakibatkan gesekan antar komponen otot / organ yang menghasilkan energi termal. Latihan (aktivitas) dapat meningkatkan suhu tubuh hingga 38,3 – 40,0 °C.
9.  Gangguan organ
Kerusakan organ seperti trauma atau keganasan pada hipotalamus, dapat menyebabkan mekanisme regulasi suhu tubuh mengalami gangguan. Berbagai zat pirogen yang dikeluarkan pada saai terjadi infeksi dapat merangsang peningkatan suhu tubuh. Kelainan kulit berupa jumlah kelenjar keringat yang sedikit juga dapat menyebabkan mekanisme pengaturan suhu tubuh terganggu.
10.Lingkungan
Suhu tubuh dapat mengalami pertukaran dengan lingkungan, artinya panas tubuh dapat hilang atau berkurang akibat lingkungan yang lebih dingin. Begitu juga sebaliknya, lingkungan dapat mempengaruhi suhu tubuh manusia. Perpindahan suhu antara manusia dan lingkungan terjadi sebagian besar melalui kulit.

Proses kehilangan panas melalui kulit dimungkinkan karena panas diedarkan melalui pembuluh darah dan juga disuplai langsung ke fleksus arteri kecil melalui anastomosis arteriovenosa yang mengandung banyak otot. Kecepatan aliran dalam fleksus arteriovenosa yang cukup tinggi (kadang mencapai 30% total curah jantung) akan menyebabkan konduksi panas dari inti tubuh ke kulit menjadi sangat efisien. Dengan demikian, kulit merupakan radiator panas yang efektif untuk keseimbangan suhu tubuh.
Mekanisme Kehilangan Panas Melalui Kulit
1.      Radiasi
Radiasi adalah mekanisme kehilangan panas tubuh dalam bentuk gelombang panas inframerah. Gelombang inframerah yang dipancarkan dari tubuh memiliki panjang gelombang 5 – 20 mikrometer. Tubuh manusia memancarkan gelombang panas ke segala penjuru tubuh. Radiasi merupakan mekanisme kehilangan panas paling besar pada kulit (60%) atau 15% seluruh mekanisme kehilangan panas.
Panas adalah energi kinetic pada gerakan molekul. Sebagian besar energi pada gerakan ini dapat di pindahkan ke udara bila suhu udara lebih dingin dari kulit. Sekali suhu udara bersentuhan dengan kulit, suhu udara menjadi sama dan tidak terjadi lagi pertukaran panas, yang terjadi hanya proses pergerakan udara sehingga udara baru yang suhunya lebih dingin dari suhu tubuh.
2.    Konduksi
Konduksi adalah perpindahan panas akibat paparan langsung kulit dengan benda-benda yang ada di sekitar tubuh. Biasanya proses kehilangan panas dengan mekanisme konduksi sangat kecil. Sentuhan dengan benda umumnya memberi dampak kehilangan suhu yang kecil karena dua mekanisme, yaitu kecenderungan tubuh untuk terpapar langsung dengan benda relative jauh lebih kecil dari pada paparan dengan udara, dan sifat isolator benda menyebabkan proses perpindahan panas tidak dapat terjadi secara efektif terus menerus.
3.    Evaporasi
Evaporasi ( penguapan air dari kulit ) dapat memfasilitasi perpindahan panas tubuh. Setiap satu gram air yang mengalami evaporasi akan menyebabkan kehilangan panas tubuh sebesar 0,58 kilokalori. Pada kondisi individu tidak berkeringat, mekanisme evaporasi berlangsung sekitar 450 – 600 ml/hari.
Hal ini menyebabkan kehilangan panas terus menerus dengan kecepatan 12 – 16 kalori per jam. Evaporasi ini tidak dapat dikendalikan karena evaporasi terjadi akibat difusi molekul air secara terus menerus melalui kulit dan system pernafasan.

Gambar Keseimbangan antara produksi panas dan pengeluaran panas (Tamsuri Anas, 2007)
Selama suhu kulit lebih tinggi dari pada suhu lingkungan, panas hilang melalui radiasi dan konduksi. Namun ketika suuhu lingkungan lebih tinggi dari suhu tubuh, tubuh memperoleh suhu dari lingkungan melalui radiasi dan konduksi. Pada keadaan ini, satu-satunya cara tubuh melepaskan panas adalah melalui evaporasi.
Memperhatikan pengaruh lingkungan terhadap suhu tubuh, sebenarnya suhu tubuh actual ( yang dapat diukur ) merupakan suhu yang dihasilkan dari keseimbangan antara produksi panas oleh tubuh dan proses kehilangan panas tubuh dari lingkungan.
4.    Usia
Usia sangat mempengaruhi metabolisme tubuh akibat mekanisme hormonal sehingga memberi efek tidak langsung terhadap suhu tubuh. Pada neonatus dan bayi, terdapat mekanisme pembentukan panas melalui pemecahan (metabolisme) lemak coklat sehingga terjadi proses termogenesis tanpa menggigil (non-shivering thermogenesis). Secara umum, proses ini mampu meningkatkan metabolisme hingga lebih dari 100%. Pembentukan panas melalui mekanisme ini dapat terjadi karena pada neonatus banyak terdapat lemak coklat. Mekanisme ini sangat penting untuk mencegah hipotermi pada bayi.

Menurut Tamsuri Anas (2007), suhu tubuh dibagi menjadi :
  • Hipotermi, bila suhu tubuh kurang dari 36°C
  • Normal, bila suhu tubuh berkisar antara 36 - 37,5°C
  • Febris / pireksia, bila suhu tubuh antara 37,5 - 40°C
  • Hipertermi, bila suhu tubuh lebih dari 40°C

0 komentar:

Posting Komentar