Pages

Minggu, 28 Oktober 2012

KEHAMILAN SUNSANG


BAB I
PENDAHULUAN
             A.   Latar Belakang
 Kehamilan sungsang atau posisi sungsang adalah posisi dimana bayi di dalam rahim berada dengan kepala di atas sehingga pada saat persalinan normal, pantat atau kaki si bayi yang akan keluar terlebih dahulu dibandingkan dengan kepala pada posisi normal. Kehamilan sungsang didiagnosis melalui bantuan ultrasonografi (USG).Kehamilan sungsang dapat disebabkan oleh banyak hal antara lain kelahiran kembar, cairan amniotik yang berlebihan, hidrosefalus, anencefaly, ari-ari yang pendek dan kelainan rahim.Sekitar 3-4% bayi berada dalam posisi ini ketika lahir. Dalam persalinan prematur, kemungkinan bayi berada dalam posisi sungsang lebih tinggi. Pada umur kehamilan 28 minggu, kemungkinan bayi berada dalam posisi sungsang adalah 25%. Angka tersebut akan turun seiring dengan umur kehamilan mendekati 40 minggu.
B.   Rumusan Masalah
Kehamilan sungsang merupakan salah satu permasalahan yang terjadi pada ibu      pasca hamil rumusan masalan yaitu.
1.    Apakah pengertian Kehamilan sungsang ?
2.    Apakah etiologi Kehamilan sungsang ?
3.    Apakah faktor penyebab Kehamilan sungsang ?
4.    Bagaimana penatalaksanaan Kehamilan sungsang ?
C.   Tujuan Penulisan
1.    Mengetahui teori dasar kehamilan sungsang
2.    Untuk mengetahui tindakan yang tepat untuk menyelamatkan janin atau penatalaksanaannya




















BAB II
TINJAUAN TEORI
A.   Defenisi
Letak sungsang adalah janin terletak memanjang dengan kepala di fundus uteri dan bokong di bagian bawah kavum uteri. Pada letak sungsang, berturut-turut lahir bagian yang makin lama makin besar, dimulai dari lahirnya bokong, bahu, kemudian kepala. Angka kematian bayi pada persalinan letak sungsang lebih banyak disbanding letak kepala, menurut Eastman sebesar 12-14%.
Letak sungsang merupakan keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala di fundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri. Dikenal beberapa jenis letak sungsang, yakni: presentasi bokong, presentasi bokong kaki sempurna, presentasi bokong kaki tidak sempurna dan presentasi kaki. Pada presentasi bokong, akibat ekstensi kedua sendi lutut, kedua kaki terangkat ke atas sehingga ujungnya terdapat setinggi bahu atau kepala janin. Dengan demikian pada pemeriksaan dalam hanya dapat diraba bokong. Pada presentasi bokong kaki sempurna disamping bokong dapat diraba kedua kaki. Pada presentasi bokong kaki tidak sempurna hanya terdapat satu kaki disamping bokong sedangkan kaki yang lain terangkat keatas.

B.   Etiologi
Penyebab dari janin letak sungsang adalah multiparitas, prematuritas, kehamilan ganda, hidramnion, hidrosefalus, anensefalus, plasenta previa, panggul sempit, kelaianan uterus dan kelainan bentuk uterus, implantasi plasenta di kornu fundus uteri.
Di referensi lain menyebutkan bahwa letak janin dalam uterus bergantung pada proses adaptasi janin terhadap ruangan didalam uterus. Pada kehamilan sampai kurang lebih 32 minggu, jumlah air ketuban relatif lebih banyak, sehingga memungkinkan janin bergerak dengan leluasa. Dengan demikian janin dapat menempatkan diri dalam presentasi kepala, letak sungsang atau letak lintang. Pada kehamilan triwulan terakhir janin tumbuh dengan cepat dan jumlah air ketuban relatif berkurang. Karena bokong dengan kedua tungkai yang terlipat lebih besar di fundus uteri, sedangkan kepala berada dalam ruangan yang lebih kecil di segmen bawah uterus. Dengan demikian dapat dimengerti mengapa pada kehamilan belum cukup bulan, frekuensi letak sungsang lebih tinggi, sedangkan pada kehamilan cukup bulan, janin sebagian besar ditemukan dalam presentasi kepala. Faktor- faktor lain yang memegang peranan dalam terjadinya letak sungsang diantaranya ialah multiparitas, hamil kembar, hidramnion, hidrosefalus, placenta previa dan panggul sempit. Kadang- kadang letak sungsang disebabkan oleh kelainan uterus dan kelainan bentuk uterus. Placenta yang terletak di daerah kornu fundus uteri dapat pula menyebabkan letak sungsang, karena plasenta mengurangi luas ruangan di daerah fundus.
C.   Prognosis
Angka kematian bayi pada persalinan letak sungsang lebih tinggi bila dibandingkan dengan letak kepala. Di RS Karjadi Semarang, RS Umum Dr. Pringadi Medan dan RS Hasan Sadikin Bandung didapatkan angka kematian perinatal masing-masing 38,5%, 29,4% dan 16,8%. Eastmen melaporkan angka-angka kematian perinatal antara 12-14%. Sebab kematian perinatal yang terpenting akibat terjepitnya tali pusat antara kepala dan panggul pada waktu kepala memasuki rongga panggul serta akibat retraksi uterus yang dapat menyebabkan lepasnya placenta sebelum kepala lahir. Kelahiran kepala janin yang lebih lama dari 8 menit umbilicus dilahirkan akan membahayakan kehidupan janin. Selain itu bila janin berbafas sebelum hidung dan mulut lahir dapat membahayakan karena mucus yang terhisap dapat menyumbat jalan nafas. Bahaya asfiksia janin juga terjadi akibat tali pusat menumbung, hal ini sering dijumpai pada presentasi bokong kaki sempurna atau bokong kaki tidak sempurna, tetapi jarang dijumpai pada presentasi bokong

D.   Klasifikasi
1.    Frank Breech/Letak Bokong. Letak bokong dengan kedua tungkai kaki terangkat ke atas, kadang kaki sampai menyentuh telinga.
2.    Complete Breech/Letak Sungsang Sempurna. Letak bokong di mana kedua kaki ada di samping bokong (letak bokong kaki sempurna/lipat kejang). Seakan posisi bayi “jongkok” dengan bokong di atas mulut rahim, lutut terangkat ke perut.
3.    Incomplete Breech/Singel Footling Breech. Bila satu kaki di atas dan kaki yang lainnya di bawah, dalam dunia kedokteran disebut presentasi bokong kaki. Tetapi, kasus letak sungsang jenis ini jarang ditemui.
Selain dapat terjadi secara fisiologis atau normal, sungsang dapat juga disebabkan oleh penyebab lain, diantaranya adalah :
1.    Kelainan dari rahim, sebut saja terdapat sekat pada rahim, bisa juga karena rahim bentuknya menyerupai angka 7
2.    Ada miom dalam rahim yang mendesak     
3.    Adanya lilitan tali pusat sehingga bayi tidak bisa memutar
4.    Placenta previa, yakni placenta yang menutupi jalan lahir
5.    Kepala bayi yang terlampau besar (hidrosefalus)
6.    Ukuran bayi lebih besar daripada panggul ibu
7.    Kehamilan bayi kembar
8.    Multiparitas, seperti kehamilan anak ke-2,3,4, dst.





                                    Gambar : 2.1 (sumber. ADAM)
E.   Komplikasi
Komplikasi persalinan letak sungsang antara lain:
1.    Dari faktor ibu:
a.       Perdarahan oleh karena trauma jalan lahir atonia uteri, sisa placenta.
b.      Infeksi karena terjadi secara ascendens melalui trauma (endometritits)
c.       Trauma persalinan seperti trauma jalan lahir, simfidiolisis.

2.    Dari faktor bayi :
a.       Perdarahan seperti perdarahan intracranial, edema intracranial, perdarahan alat-alat vital intra-abdominal.
b.      Infeksi karena manipulasi
c.       Trauma persalinan seperti dislokasi/fraktur ektremitas, persendian leher, rupture alat-alat vital intraabdominal, kerusakan pleksus brachialis dan fasialis, kerusakan pusat vital di medulla oblongata, trauma langsung alat-alat vital (mata, telinga, mulut), asfiksisa sampai lahir mati


F.    Penatalaksanaan
1.    Dalam kehamilan
Pada umur kehamilan 28-30 minggu ,mencari kausa daripada letak sungsang yakni dengan USG; seperti plasenta previa, kelainan kongenital, kehamilan ganda, kelainan uterus. Jlka tidak ada kelainan pada hasil USG, maka dilakukan knee chest position atau dengan versi luar (jika tidak ada kontraindikasi). Versi luar sebaiknya dilakukan pada kehamilan 34-38 minggu.
Pada umumnya versi luar sebelum minggu ke 34 belum perlu dilakukan karena kemungkinan besar janin masih dapat memutar sendiri, sedangkan setelah minggu ke 38 versi luar sulit dilakukan karena janin sudah besar dan jumlah air ketuban relatif telah berkurang. Sebelum melakukan versi luar diagnosis letak janin harus pasti sedangkan denyut jantung janin harus dalam keadaan baik. Kontraindikasi untuk melakukan versi luar; panggul sempit, perdarahan antepartum, hipertensi, hamil kembar, plasenta previa. Keberhasilan versi luar 35-86 % (rata-rata 58 %). Peningkatan keberhasilan terjadi pada multiparitas, usia kehamilan, frank breech, letak lintang. Newman membuat prediksi keberhasilan versi luar berdasarkan penilaian seperti Bhisop skor (Bhisop-like score).
Kalau versi luar gagal karena penderita menegangkan otot-otot dinding perut, penggunaan narkosis dapat dipertimbangkan, tetapi kerugiannya antara lain: narkosis harus dalam, lepasnya plasenta karena tidak merasakan sakit dan digunakannya tenaga yang berlebihan, sehingga penggunaan narkosis dihindari pada versi luar



2.    Dalam Persalinan
Menolong persalinan letak sungsang diperlukan lebih banyak ketekunan dan kesabaran dibandingkan dengan persalinan letak kepala. Pertama-tama hendaknya ditentukan apakah tidak ada kelainan lain yang menjadi indikasi seksio, seperti kesempitan panggul, plasenta previa atau adanya tumor dalam rongga panggul.
Pada kasus dimana versi luar gagal/janin tetap letak sungsang, maka penatalaksanaan persalinan lebih waspada. Persalinan pada letak sungsang dapat dilakukan pervaginam atau perabdominal (seksio sesaria). Pervaginam dilakukan jika tidak ada hambatan pada pembukaan dan penurunan bokong. Syarat persalinan pervaginam pada letak sungsang: bokong sempurna (complete) atau bokong murni (frank breech), pelvimetri, klinis yang adekuat, janin tidak terlalu besar, tidak ada riwayat seksio sesaria dengan indikasi CPD, kepala fleksi. Mekanisme persalinan letak sungsang berlangsung melalui tiga tahap yaitu:
a.       Persalinan Bokong
b.      Persalinan Bahu
c.       Persalinan Kepala Janin

3.    Prosedur persalinan bayi sunsang (Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Neonatal, 2002)
a.    Langkah klinik
1)    Persetujuan tindakan medic
2)    Persiapan Pasien :
a)      Ibu dalam posisi litotomi pada tempat tidur persalinan
b)      Mengosongkan kandung kemih , rektum serta membersihkan daerah perenium dengan antiseptic
b.    Instumen
1)    Perangkat untuk persalinan
2)    Perangkat untuk resusitasi bayi
3)    Uterotonika (Ergometrin maleat, Oksitosin)
4)    Anastesi lokal (Lidokain 2%)
5)    Cunam piper, jika tidak ada sediakan cunam panjang
6)    Semprit dan jarum no.23 (sekali pakai)
7)    Alat-alat infuse
8)    Povidon Iodin 10%
9)    Perangkat episiotomi dan penjahitan luka episiotomy


c.    Persiapan penolong
1)    Pakai baju dan alas kaki ruang tindakan, masker dan kaca mata pelindung
2)    Cuci tangan hingga siku dengan di bawah air mengalir
3)    Keringkan tangan dengan handuk DTT
4)    Pakai sarung tangan DTT / steril
5)    Memasang duk (kain penutup)
Tindakan Pertolongan Partus Sungsang
1)    Lakukan periksa dalam untuk menilai besarnya pembukaan, selaput ketuban dan penurunan bokong serta kemungkinan adanya penyulit.
2)    Intruksikan pasien agar mengedan dengan benar selama ada his.
3)    Pimpin berulang kali hingga bokong turun ke dasar panggul, lakukan episiotomi saat bokong membuka vulva dan perineum sudah tipis.

d.    Melahirkan bayi
1)    Cara bracht
a)    Segera setelah bokong lahir, bokong dicekam secara bracht (kedua ibu jari penolong sejajar dengan panjang paha, jari-jari yang lain memegang daerah panggul).
b)    Jangan melakukan intervensi, ikuti saja proses keluarnya janin.
c)    Longgarkan tali pusat setelah lahirnya perut dan sebagian dada.
d)    Lakukan hiperlordosis janin pada saat anguluc skapula inferior tampak di bawah simfisis (dengan mengikuti gerak rotasi anterior yaitu punggung janin didekatkan ke arah perut ibu tanpa tarikan) disesuaikan dengan lahirnya badan bayi.
e)    Gerakkan ke atas hingga lahir dagu, mulut, hidung, dahi dan kepala.
f)     Letakkan bayi di perut ibu, bungkus bayi dengan handuk hangat, bersihkan jalan nafas bayi, tali pusat dipotong.

2)    Cara klasik
Pengeluaran bahu dan tangan secara klasik dilakukan jika dengan Bracht baht dan tangan tidak bisa lahir.
Prosedur :
a)      Segera setelah bokong lahir, bokong dicekam dan dilahirkan sehingga bokong dan kaki lahir.
b)      Tali pusat dikendorkan.
c)       Pegang kaki pada pergelangan kaki dengan satu tangan dan tarik ke atas
·         Dengan tangan kiri dan menariknya ke arah kanan atas ibu untuk melahirkan bahu kiri bayi yang berada di belakang.
·         Dengan tanggan kanan dan menariknya ke arah kiri atas ibu untuk melahirkan bahu kanan bayi yang berada di belakang.
d)      Masukkan dua jari tangan kanan atau kiri (sesuai letak bahu belakang) sejajar dengan lengan bayi, untuk melahirkan lengan belakang bayi.
e)      Setelah bahu dan lengan belakang lahir kedua kaki ditarik ke arah bawah kontra lateral dari langkah sebelumnya untuk melahirkan bahu dan lengan bayi depan dengan cara yang sama.

3)    Cara muller
Pengeluaran bahu dan tangan secara Muller dilakukan jika dengan cara Bracht bahu dan tangan tidak bisa lahir. Melahirkan bahu depan terlebih dahulu dengan menarik kedua kaki dengan cara yang sama seperti klasik, ke arah belakang kontra lateral dari letak bahu depan. Setelah bahu dan lengan depan lahir dilanjutkan langkah yang sama untuk melahirkan bahu dan lengan belakang.

4)    Cara lovset (Dilakukan bila ada lengan bayi yang terjungkit di belakang kepala / nuchal arm)
a)    Setelah bokong dan kaki bayi lahir memegang bayi dengan kedua tangan. Memutar bayi 180o dengan lengan bayi yang terjungkit ke arah penunjuk jari tangan yang muchal.
b)    Memutar kembali 180o ke arah yang berlawanan ke kiri atau ke kanan beberapa kali hingga kedua bahu dan lengan dilahirkan secara Klasik atau Muller.

5)    Ekstraksi kaki
Dilakukan bila kala II tidak maju atau tampak gejala kegawatan ibu-bayi. Keadaan bayi / ibu mengharuskan bayi segera dilahirkan
a)      Tangan kanan masuk secara obstetrik melahirkan bokong, pangkal paha sampai lutut, kemudian melakukan abduksi dan fleksi pada paha janin sehingga kaki bawah menjadi fleksi,tangan yang lain mendorong fundus ke bawah. Setelah kaki fleksi pergelangan kaki dipegang dengan dua jari dan dituntun keluar dari vagina sampai batas lutut.
b)      Kedua tangan penolong memegang betis janin, yaitu kedua ibu jari diletakkan di belakang betis sejajar sumbu panjang paha dan jari-jari lain di depan betis, kaki ditarik turun ke bawah sampai pangkal paha lahir.
c)       Pegangan dipindah ke pangkal paha sehingga mungkin dengan kedua ibu jari di belakang paha, sejajar sumbu panjang paha dan jari lain di depan paha.
d)      Pangkal paha ditarik curam ke bawah sampai trokhanter depan lahir kemudian pangkal paha dengan pegangan yang sama dievaluasi ke atas hingga trokhanter belakang lahir. Bila kedua trokhanter lahir berarti bokong telah lahir.
e)      Sebaliknya bila kaki belakang yang dilahirkan lebih dulu, maka yang akan lahir lebih dahulu ialah trokhanter belakang dan untuk melahirkan trokhanter depan maka pangkal paha ditarik terus cunam ke bawah.
f)       Setelah bokong lahir maka dilanjutkan cara Clasik , atau Muller atau Lovset.

6)    Teknik ekstraksi bokong
Dikerjakan bila presentasi bokong murni dan bokong sudah turun di dasar panggul, bila kala II tidak maju atau tampak keadaan janin lebih dari ibu yang mengharuskan bayi segera dilahirkan.
a)      Jari penunjuk penolong yang searah dengan bagian kecil janin, dimasukkan kedalam jalan lahir dan diletakkan dilipatan paha bagian depan. Dengan jari ini lipat paha atau krista iliaka dikait dan ditarik curam ke bawah. Untuk memperkuat tenaga tarikan ini, maka tangan penolong yang lain menekam pergelangan tadi dan turut menarik curam ke bawah.
b)      Bila dengan tarikan ini trokhanter depan mulai tampak di bawah simfisis, maka jari telujuk penolong yang lain mengkait lipatan paha ditarik curam ke bawah sampai bokong lahir.
c)       Setelah bokong lahir, bayi dilahirkan secara Clasik , atau Muller atau Lovset.





BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A.   Pengkajian
1.      Pengumpulan data
a.       Data subyektif
Biodata. Pada usia muda sering terjadi kelainan letak sungsang, karena perkembangan panggul belum optimal, kesempitan panggul merupakan faktor predisposisi persalinan letak sungsang.
1)      Keluhan utama
 Nyeri saat pergerakan anak, terasa penuh dibagian atas dan gerakan terasa dibagian bawah.
2)      Adanya his, kemungkinan keluarnya bloodslym, meconium dan cairan pervaginam.
3)      Riwayat kesehatan keluarga
Kemungkinan adanya keturunan hamil kembar dan hamil sungsang.
4)      Riwayat kesehatan dahulu
Adanya riwayat rachitis, asteomalasia, TBC tulang, dapat mengakibatkan kelainan atau perubahan bentuk panggul (kesempitan panggul) adanya riwayat kelainan uterus maupun bentuknya, tumor uterus ataupun panggul yang merupakan faktor predisposisi terjadinya letak sungsang.
5)      Riwayat obstetric
Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu. Pernah mengalami letak sungsang,kehamilan dengan hidramnion dan pernah melahirkan prematur.
6)       Psikososial dan spiritual.
Resiko psikologis yang terjadi berkaitan dengan bayangan resiko kehamilan dan proses persalinan, sehingga wanita sangat emosional dalam upaya mempersiapkan atau mewaspadai segala sesuatu yang mungkin dihadapi. Kelainan letak anak abnormal (sungsang) dapat meningkatkan kecemasan.
b.      Data obyektif
Didapat melalui observasi dan pemeriksaan terhadap klien meliputi :
1)      Tinggi badan
Kemungkinan besar dijumpai pada fungsi badan yang kurang dari normal (<145 cm) karena keadaan ini sangat menunjang adanya kesempitan panggul merupakan  faktor predisposisi dari kehamilan dengan letak sungsang.
2)      Palpasi abdomen
Ø  Leopold I     :  Teraba bagian yang bulat, keras, melenting pada fundus uteri.
Ø  Leopold II    :  Teraba bagian yang keras, datar, memanjang seperti papan, pada arah yang berlawanan (punggung).
Ø  Leoplold III :  Teraba bagian yang kurang bulat, lunak dan tidak melenting pada bagian bawah uterus (bokong).
Ø  Leoplold IV :  Kedua jari tangan divergen/sejajar dan convergen.
3)      Auskultasi. DJJ terdengar lebih tinggi/sejajar dengan pusat (setelah kanan/kiri/tepat pada pusat).
4)      Pemeriksaan panggul luar. Kemungkinan adanya kesempatan panggul
5)      Pemerikasaan panggul luar
Ø  Dapat teraba bokong yang ditandai oleh adanya sakrum, kedua tuber ossis issiadikum dan anus pada presentasi bokong murni.
Ø   Pada presentasi bokong kaki sempurna, kedua kaki dapat teraba disamping bokong.
Ø  Pada presentasi bokong kaki tidak sempurna, akan teraba satu kaki disamping bokong.
Ø   Pada presentasi kaki/lutut akan teraba satu/dua kaki/lutut.

2.       Analisa data
Data yang telah terkumpul kemudian dianalisa, bidan melakukan analisa berdasarkan urutan sebagai berikut :
a.       Memenuhi hubungan fakta yang satu dengan lainnya yang mencari sebab dan akibat.
b.      Menentukan masalah dan apa masalah sebenarnya.
c.       Menentukan penyebab utamanya.
d.      Menentukan tingkat resiko masalah.

B.   Diagnosa
1.    Resiko perpanjangan kala I berhubungan dengan kurangnya tekanan bagian terendah janin terhadap jalan lahir.
a.    Tujuan
1.    Pada primigravida dalam waktu 18 jam kala I terlampaui.
2.    Pada multigravida dalam waktu 12 jam kala I terlampaui
b.    Kriteria
1.    Klien ingin mengejan.
2.    His adekuat tiap menit lama 40”-60” fase aktif.
3.    His adekuat fase laten dalam 10 menit 2-3 x, lama 20”-40”.

c.  Intervensi
1.    Berikan penjelasan tentang kondisi dan tindakan yang akan dilakukan. Rasional:  Klien lebih mengerti keadaanya sehingga lebih kooperatif.
2.    Anjurkan ibu untuk menarik nafas panjang saat ada his. Rasional : Otot dan pembuluh darah uterus mengalami relaxasi mencegah hipoxia janin dan mencegah kelelahan pada ibu.
3.    Lakukan observasi CHBPK tiap 30 menit. Rasional : Indetifikasi kemajuan persalinan.
4.    Bila bokong sudah masuk PAP ketuban + untuk jalan-jalan. Rasional : Menambah tekanan bagian terendah janin terhadap jalan lahir.
5.    Usahakan blass kosong. Rasional:  Blass penuh menghambat penurunan bagian terendah janin masuk panggul.
6.    Bantu klien makan dan minum. Rasional: Menambah energi untuk mengejar ibu.
7.    Lakukan VT tiap 4 jam atau sewaktu bila ada indikasi. Rasional:  Identifikasi penurunan bokong pada bidang hodge panggul.
8.    Bila ada tanda melewati garis waspada  rujuk. Rasional:   Fungsi interdepent menangani kedarutan klien.
9.    Kolaborasi dengan tim medis bila terjadi berpanjangan kala I. Rasional: Fungsi dependent untuk mengatasi masalah yang darurat dan harus cepat ditangani dengan benar.
2.     Resiko terjadi kemacetan kelahiran bahu dan kepala sampai dengan letak sungsang.
a.    Tujuan
1.    Pada primigravida dalam waktu 1,5 jam kala II terlampai.
2.    Pada multigravida dalam waktu 30 menit kala II terlampaui
b.    Kriteria
1.    Bayi lahir menangis  keras.
2.    AS 1 menit dan 5 menit pertma normal (7-9).
3.    Bayi lahir seluruhnya mulai dari umbilicus sampai seluruh badan < 8 menit.
c.  Intervensi
1.    Kandung kemih tetap kosong dengan memotivasi ibu untuk berkemih sesering mungkin (tiap 2 jam). Rasional : Kandung kemih yang penuh dapat menggangu/menghambat penurunan bagian terendah.
2.    Tanda vital tiap 30 menit (TD, RR, PULSE, SUHU). Rasional: Deteksi dini terjadinya penyimpangan dari keadaan normal ibu.
3.    Berikan/bantu ibu dalam pemberian makan dan minum. Rasional : Menambah energi untuk mengejar dan tenaga ibu.
4.    Lakukan asuhan sayang ibu (dengan cara, mendampingi, menjaga kebersihan ibu, memberi rasa nyaman dengan melap dengan wash lap, masase). Rasional :  Ibu merasa diperhatikan dan terlindungi.
5.    Kolaborasi dengam tim medis bila ada penyulit dalam persalinan. Rasional : Pertolongan darurat dapat diberikan bila dibutuhkan fungsi dependent bidan dalam pertolongan persalinan sungsang.

3.    Cemas sehubungan dengan proses persalinan pada letak sungsang.
a.    Tujuan  : 
1.    Cemas teratasi/rasa cemas hilang.
b.     Kriteria
1.    Ibu tenang, mengerti dan mampu bersikap kooperatif terhapap tindakan yang diberikan.
2.    Ekspresi ibu puas terhadap tindakan yang diberikan petugas.
c.    Intervensi
1.    Lakukan komunikasi therapeutik. Rasional : Hubungan harmonis menimbulkan rasa aman, percaya pada petugas.
2.    Jelaskan keadaan ibu dan janin sampai saat ini baik-baik saja. Rasional :Penjelasan yang konkrit tidak rekayasa akan menotivasi ibu lebih tenang dan kooperatif dalam tindakan.
3.    Berikan penjelasan pada klien bahwa cemas yang berlebihan mempengaruhi keselamatan bayinya. Rasional: Cemas merangsang hormon adrenalin meningkat yang berakibat timbulnya hipoxia pada  janin.
4.    Berikan penjelasan tentang tindakan pertolongan persalinan yang akan dilakukan pada letak sungsang. Rasional :Ibu lebih tenang dan aman setelah mendapatkan gambaran tindakan pertolongan persalinan yang akan diberikan.
5.    Ajarkan teknik distraksi dengan diskusi terbuka. Rasional :Merangsang fokus perhatian ibu terhadap prosespersalinan.
6.    Bimbing ibu untuk berdoa sesuai agama dan kepercayaan. Rasional :Ibu lebih tenang, yakin bahwa Tuhan YME melindungi keselamatan diri dan janinnya.
7.    Lakukan observasi TTV tiap 4 jam. Rasional : Identifikasi tingkat  ibu dari hasil tekanan darah dan nadi yang meningkat.













BAB IV
PENUTUP
A.   Kesimpulan
Letak sungsang adalah janin terletak memanjang dengan kepala di fundus uteri dan bokong di bagian bawah kavum uteri. Letak sungsang merupakan keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala di fundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri.

B.   Saran
Untuk selalu menggunakan SOP (Standar Operating Prosedur) di rumah sakit dalam menangani kelahiran sunsang ini.

0 komentar:

Posting Komentar